Halal Bihalal NUSAMBA, Parinusa : Yang Pergi Hanyalah Waktu, Bukan Nilai Persaudaraan
AMBON,CENGKEPALA.COM – Suasana haru dan penuh keakraban menyelimuti acara Halal Bihalal yang digelar oleh ikatan NUSAMBA (Nusalaut – Ambalau ) Provinsi Maluku. Dalam momen suci ini, seluruh elemen masyarakat diajak untuk tidak hanya sekadar bersalaman, tetapi benar-benar menyatukan hati dan membersihkan diri dari segala dendam.
Halah Bihalal yang berlangsung di Islamic Centre, Selasa (14/4/26) ini, dihadiri oleh ratusan masyarakat dari dua pulau bersaudara yakni Pulau Nusalaut dan Ambalau.
Dalam momentum tersebut, Sekjen NUSAMBA Provinsi Maluku, Janny Parinusa, lewat sambutannya menekankan makna mendalam di balik perayaan ini. Menurutnya, bulan Ramadan mungkin telah berlalu, namun nilai-nilai luhur yang diajarkan harus tetap abadi.
“Ramadan telah berlalu, bulan yang mengajarkan arti keikhlasan kini telah pergi. Namun sejatinya, yang pergi hanyalah waktu, bukan nilai-nilainya. Selama sebulan kita belajar menahan amarah, belajar tidak mudah menyakiti, dan belajar memahami daripada menuntut dipahami,” ujar Parinusa dengan penuh penekanan.
Lebih jauh, Parinusa menyoroti bahwa seringkali jarak di antara sesama muncul bukan karena masalah besar, melainkan karena ucapan yang menyinggung atau sikap yang disalahartikan. Oleh karena itu, di momen Halal Bihalal ini, ia mengajak seluruh hadirin untuk meruntuhkan sekat pemisah.
“Mari kita belajar mengikhlaskan, bukan karena kita lemah, tapi karena hati kita terlalu berharga untuk dipenuhi rasa benci. Tidak ada hubungan yang selalu sempurna, tidak ada kebersamaan tanpa gesekan. Namun yang membuat kita kuat adalah kemampuan untuk kembali merajut kebersamaan itu setiap kali mulai retak,” tegasnya.
Ia menegaskan , Sekalipun berbeda Pulau dan Agama, Tapi satu Ikatan Darah. Sehingga acara ini juga menjadi wadah untuk menegaskan kembali jati diri persaudaraan Nusalaut Ambalau. Meski terpisah oleh lautan dan memiliki latar belakang yang berbeda, ikatan batinnya tak terputus.
“Katong Nusalaut Ambalau dua pulau yang terpisah, tapi hati selalu menyatu. Beda pulau, beda agama, tapi punya rasa kepedulian dan satu ikatan darah. Katong mungkin tidak selalu sepakat, namun tetap saling menguatkan. Berbeda namun tetap bersama,” tambahnya.
Di akhir sambutan, Parinusa berharap setelah acara ini, semua bisa kembali dengan hati yang baru—lebih lapang, lebih sabar, dan lebih peduli.
“Semoga langkah kita ke depan lebih ringan karena hati tidak lagi terbebani. Pada akhirnya, yang paling kita ingat bukanlah siapa yang paling benar, tapi siapa yang tetap bertahan untuk saling menguatkan. NUSAMBA itu katong, katong itu NUSAMBA,” pungkasnya.(CP-01)