Samloy : Marthinus Hukom Kombinasi Pengalaman Operasional dan Akademik Lengkap, Dinilai Layak Pimpin Polri
AMBON , CENGKEPALA.COM – Nama Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komisaris Jenderal Polisi Marthinus Hukom, kian diperbincangkan sebagai salah satu figur potensial dalam bursa calon pemimpin Korps Bhayangkara, menggantikan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Bagi praktisi hukum asal Maluku, Ronny S Samloy, sosok perwira tinggi kelahiran Maluku ini memiliki perpaduan keunggulan yang jarang dimiliki banyak perwira lainnya, rekam jejak tugas berat, pengalaman strategis, serta kematangan pemikiran yang teruji.
“Kalau kita bicara syarat memimpin institusi sebesar Polri, Jenderal Marthinus Hukom sudah memenuhi hampir semuanya. Bukan sekadar jabatan, tapi bukti nyata hasil kerja yang bisa dilihat publik,” ujar Ronny kepada media ini , Jumat (19/6/26).
Ia menilai usia Marthinus yang kini menginjak 57 tahun juga masih sangat memadai. Mengacu pada ketentuan masa bakti yang memungkinkan hingga usia 60 tahun, ia masih memiliki cukup waktu untuk melaksanakan program dan kebijakan secara berkelanjutan jika nantinya dipercaya menjabat.
Perjalanan karier Marthinus mencatat jejak yang panjang di lini depan penanganan ancaman keamanan negara. Sebelum menjabat sebagai Kepala BNN, ia pernah mengemban tanggung jawab besar sebagai Wakil Kepala hingga Kepala Densus 88 Anti Teror – satuan elit yang menjadi garda terdepan dalam memutus jaringan terorisme di Indonesia.
“Beliau ditempa langsung di lapangan menghadapi risiko nyata. Keberhasilan menangani kasus terorisme, kemudian beralih memimpin perang melawan peredaran narkotika, membuktikan kemampuannya beradaptasi dan mengambil keputusan tepat di situasi sulit,” jelas Ronny.
Tak hanya unggul di bidang operasional, kapasitas intelektual Marthinus juga dinilai sangat mumpuni. Ia baru saja menyelesaikan pendidikan tingkat doktor di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, dengan fokus kajian mendalam mengenai filsafat terorisme.
“Ini yang membuatnya berbeda. Ia tidak hanya tahu cara bertindak, tapi juga memahami akar permasalahan secara mendasar. Latar belakang akademik ini sangat penting untuk merumuskan strategi jangka panjang, bukan hanya solusi sesaat,” tegasnya.
Ronny menambahkan, tantangan yang dihadapi Polri saat ini terus berkembang: mulai dari kejahatan berbasis teknologi, kejahatan lintas negara, hingga upaya memulihkan dan memelihara kepercayaan masyarakat. Kondisi ini butuh pemimpin yang berpandangan luas dan berpikir strategis.
“Jenderal Marthinus Hukom membawa dua kekuatan sekaligus: pengalaman di lapangan dan kemampuan merencanakan langkah ke depan. Itu adalah modal utama yang dibutuhkan Polri saat ini,” ucapnya.
Ia pun berharap pemerintah dan Presiden mempertimbangkan secara objektif seluruh aspek tersebut. “Beliau adalah aset bangsa. Jika diberi amanah, saya yakin Polri akan semakin kuat, profesional, dan semakin dekat dengan kepercayaan masyarakat,” pungkas Ronny.(CP-01)