UNDP dan BIOFIN Kagumi Pusat Konservasi Satwa Maluku, Soroti Inovasi Pembiayaan dan Peran Masyarakat
Ambon, CENGKEPALA.COM – Usai meninjau Pusat Konservasi Satwa Maluku di Kebun Cengkeh, Kota Ambon, pada Senin (29/9/2025), Kepala Perwakilan UNDP Indonesia, Sara Ferrer Olivella, dan Biofin Program Manager, Martin Cadena, menyampaikan kekaguman mereka terhadap inisiatif konservasi yang ada. Keduanya menyoroti inovasi pembiayaan dan peran penting masyarakat dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati.
Sara Ferrer Olivella mengungkapkan bahwa Maluku dipilih sebagai lokasi pertama untuk mengembangkan pembiayaan keanekaragaman hayati karena wilayah ini merupakan pusat hotspot keanekaragaman hayati di Indonesia timur, meliputi Maluku, Papua, dan sekitarnya. Pemilihan ini juga didasarkan pada konsultasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang memiliki kebutuhan untuk mengembangkan pusat konservasi satwa.
“Kami bekerjasama dengan KLHK untuk mengembangkan konservasi satwa ini. Pusat konservasi ini dibangun pada tahun 2021 dan spesial karena menggunakan mekanisme pendanaan inovatif, yaitu dana sukuk,” ujarnya.
Sara menjelaskan bahwa dana sukuk digunakan untuk mengembangkan atau melindungi keanekaragaman hayati di Indonesia. Pusat ini diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di negara lain.
“Kami membawa para pihak ke sini untuk melihat secara langsung, karena selama ini mereka hanya mendengar pengembangan dari Jakarta. Perwakilan dari New York dan Istanbul turut hadir untuk memberikan masukan. Dengan melihat langsung, mereka dapat membuktikan sendiri bahwa konservasi ini berjalan dan telah menyelamatkan ribuan satwa ke alam bebas,” tambahnya.
Sara juga mengapresiasi pemerintah Indonesia yang telah mengembangkan inovasi ini dan berharap dapat diaplikasikan di tempat lain.
” Selain menangani satwa liar di sini,, yang penting yang dilakukan di sini adalah merubah pola pikir masyarakat Maluku, mulai dari anak kecil hingga mahasiswa perguruan tinggi supaya mereka berkomitmen untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati dan mereka mendukung . karena tidak cukup hanya dukungan dari pemerintah, kIta butuh dukungan sektor swasta dan masyarakat di semua tingkatan. jadi tempat ini adalah contoh bagaimana kita bisa menggerakan seluruh aktor, bukan hanya dari segi keuangan,” pintanya.CP-0
Sementara itu, Biofin Program Manager, Martin Cadena, menyoroti peran penting masyarakat dalam upaya konservasi. Ia menekankan bahwa pendekatan yang melibatkan seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan sangat penting.
“Dari 133 negara, Indonesia menjadi salah satu yang terdepan dalam pembiayaan keanekaragaman hayati, contohnya melalui sukuk. Karena 90 negara lainnya masih tergolong baru dalam hal ini, mereka dapat belajar dari Indonesia,” ujarnya.
Martin menambahkan bahwa Biofin sedang menyusun rencana aksi yang diharapkan akan menghasilkan banyak solusi terkait keuangan untuk keanekaragaman hayati. “Dalam waktu dekat, akan ada sebuah ‘menu’ yang terdiri dari berbagai solusi pendanaan keanekaragaman hayati, sehingga kita dapat memilih solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan kita,” pungkasnya.(CP-01)