Cengkepala

15 Bulan Pimpin Brimob Polda Maluku: Irfan Marpaung Temukan Kembali Persaudaraan di Tanah Ambon

AMBON ,CENGKEPALA.COM – Masa tugas 15 bulan memimpin ribuan personel di Maluku telah berakhir bagi Kombes Pol Dr. Irfan S.P. Marpaung, S.I.K., M.Si. Bagi kebanyakan orang, pergantian tugas adalah hal lumrah dalam jenjang karier. Namun bagi Komandan Satuan Brimob Polda Maluku ini, perpisahan dengan Ambon terasa jauh lebih menyentuh hati.

Ia datang ke sini sebagai pemimpin pasukan keamanan, namun saat hendak melangkah pergi, ia membawa kenangan persaudaraan yang erat dengan masyarakat Bumi Raja-Raja.

Perjalanan pengabdiannya di Maluku bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya, tepat 25 tahun lalu pada masa Operasi Mutiara I tahun 1999–2000, perwira lulusan Akademi Kepolisian 1997 ini pernah merasakan langsung betapa beratnya menjaga kedamaian di tengah situasi yang penuh ketegangan.

Kembali lagi di tempat yang sama setelah seperempat abad berlalu, ia menyaksikan perubahan wajah Maluku yang luar biasa. Wilayah yang dulu penuh dengan ketegangan dan pos pengamanan, kini berubah menjadi damai dengan warga yang tetap menyambut hangat siapa saja yang datang.

“Begitu ditempatkan di sini, saya langsung teringat masa tugas dulu. Saya melihat sendiri evolusi Maluku. Dulu tantangannya adalah konflik horizontal, sekarang tantangannya sudah berubah total,” ujarnya kepada awak media di Mako Brimob Polda Maluku, Kamis (9/7/2026).

Irfan menyadari bahwa tantangan keamanan saat ini tidak lagi hanya soal menjaga situasi di lapangan. Di era digital, kecepatan informasi yang menyebar justru menjadi tantangan tersendiri; berita yang tidak terverifikasi bisa memicu keresahan seketika jika tidak disikapi dengan tepat.

“Dulu kami berkomunikasi secara langsung, kini tantangan terbesar adalah media sosial. Itulah kenapa kami harus lebih teliti menyaring dan mengklarifikasi setiap informasi,” tambahnya.

Untuk itu, ia menerapkan pendekatan menyeluruh: menggabungkan hukum negara dengan nilai adat, agama, dan kearifan lokal seperti sistem sasi, demi menyelesaikan masalah dengan cara yang diterima semua pihak.

Salah satu bukti keberhasilan cara kerjanya adalah kedekatan yang terjalin. Setiap kali ada rencana pemindahan pos pengamanan, warga datang memohon agar tidak ditarik lagi.

“Mereka bilang: ‘Jangan tinggalkan kami Bapak, kalian sudah seperti saudara sendiri’. Hal ini membuat kami bangga sekaligus berpikir, karena kami juga harus taat aturan administrasi,” ungkapnya haru.

Ia tak lupa mengenang masa lalu yang penuh keterbatasan,dulu harus berjalan kaki berhari-hari karena akses sulit, namun senantiasa dirawat layaknya keluarga oleh warga. Kini kebaikan hati itu tak berubah sedikitpun.

 

“Saya merasa beruntung bisa kembali mengabdi di sini. Hati saya tenang saat hendak pergi,” ujarnya.

Sebagai pesan terakhir, ia mengajak semua pihak tetap bersatu: “Bekerjalah dengan ikhlas, bukan sekadar rutinitas. Kita mungkin tak bisa memuaskan semua pihak, tapi kita punya tujuan yang sama: menjaga persatuan demi Maluku dan Indonesia yang lebih baik,” tutupnya. (CP-01)

Views: 10