Pelantikan DPD GMNI Maluku, Ketum Soejahri Dorong Akselerasi Kaderisasi dan Adaptasi Digital
AMBON,CENGKEPALA.COM – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Soejahri Somar, menegaskan pentingnya penguatan kaderisasi sebagai fondasi utama organisasi dalam menghadapi dinamika zaman, khususnya di era digital yang semakin kompleks.
Hal ini disampaikan Somar usai memimpin prosesi pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) GMNI Maluku Periode 2025-2027, yang dinahkodai Roni Pormes selaku ketua DPD Maluku , sekaligus membuka pelaksanaan Kaderisasi Tingkat Menengah (KTM) yang berlangsung di Lantai V Kantor DPRD Provinsi Maluku, Selasa (28/4/2026).
Dalam penyampaiannya, Ketum mengingatkan bahwa proses kaderisasi bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang strategis untuk membentuk kualitas kader yang adaptif dan progresif.
“Kita mengisi ruang-ruang kaderisasi bukan hanya sebagai formalitas, tetapi sebagai momentum membangun kesadaran organisasi. Kita tidak boleh melupakan mereka yang telah membesarkan GMNI,” tegasnya.
Ia menjelaskan, rilis modul kaderisasi yang disampaikan DPP sebelumnya bukan untuk langsung diterapkan di seluruh cabang, melainkan sebagai draf awal guna memantik kritik, masukan, dan saran dari kader GMNI di seluruh Indonesia.
“Ini adalah gerak awal. Pada bulan Juni nanti, kita akan melaksanakan agenda kaderisasi nasional, kemungkinan besar di Bandar Lampung,” ungkapnya.
Ketum juga menaruh harapan besar pada jajaran pengurus, termasuk Bung Bayu, untuk mengorkestrasi agenda kaderisasi secara lebih terarah, sekaligus mendorong akselerasi mobilisasi organisasi ke depan.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya menjaga persatuan dalam tubuh GMNI. Namun, ia mengingatkan agar kader tidak terjebak pada “persatuan palsu” yang bersifat pragmatis.
“Persatuan sejati lahir dari kesadaran kolektif dalam menjalankan agenda organisasi, bukan karena kepentingan sesaat,” ujarnya.
Dalam konteks kekinian, ia juga menyinggung fenomena politik yang diibaratkan sebagai “new Nasakom”, sebagai kritik terhadap praktik pragmatisme politik pascarekonsiliasi elite.
“GMNI bukan ruang partai politik, bukan ruang elit. GMNI adalah organisasi kader dan organisasi perjuangan yang mengasah kemampuan dan integritas,” tegasnya.
Di hadapan kader dan alumni, Ketum mengaku bangga karena kepengurusan DPP GMNI saat ini mampu bertahan dan membuktikan eksistensi organisasi, meski sempat diragukan.
“Mereka bilang kami hanya bertahan lima sampai enam bulan, tapi hari ini kami masih berdiri dan menjalankan organisasi dengan maksimal,” katanya.
Ia pun memberikan perhatian khusus kepada DPD dan DPC GMNI di Maluku agar lebih fokus dalam menjalankan sistem kaderisasi yang terstruktur dan berkelanjutan.
“Tidak cukup hanya momentum. Harus ada sistem teknis yang memastikan kaderisasi berjalan maksimal,” tandasnya.
Sebagai langkah konkret, DPP GMNI tengah menyiapkan sejumlah instrumen pendukung, seperti silabus kaderisasi, platform digital GMNI University, hingga kerja sama dengan pihak perbankan untuk mendukung sistem organisasi yang lebih modern.
“Ini adalah respons atas era disrupsi digital. Kader GMNI harus adaptif terhadap dinamika nasional maupun global,” pungkasnya.(CP-01)